KABAR 121 :

Selamat Datang di Website Resmi KSR PMI Unit 121 Politeknik Negeri Ujung Pandang ||

Artikel

Minuman Energi Tidak Selalu Menyehatkan

INFOKOM | Jumat, 29 Mei 2015 - 14:47:58 WIB | dibaca: 524 pembaca

Kekhawatiran akan bahaya minuman energi, terutama jika dikombinasikan dengan alkohol, telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Berikut adalah 5 masalah kesehatan yang terkait dengan minuman yang diklaim mampu meningkatkan stamina ini.


1. Masalah jantung
Di tahun 2007, pria Australia berusia 28 tahun menderita serangan jantung setelah minum 8 kaleng minuman energi yang mengandung 80 mg kafein dalam periode 7 jam. 
Kafein dan kandungan lain dalam minuman energi diketahui bisa meningkatkan tekanan darah dan detak jantung. Kafein sendiri bisa menyebabkan sel jantung melepaskan kalsium, yang akan berpengaruh pada detak jantung dan akhirnya menyebabkan gangguan irama jantung (aritmia). 
Konsumsi minuman energi juga merusak keseimbangan normal kadar garam dalam tubuh. Kondisi ini juga akan memicu aritmia. Walau begitu, belum bisa disimpulkan apakah minuman ini memicu masalah jantung.

2. Risiko keguguran
Penelitian mengenai efek kafein pada keguguran memang belum tuntas. Sebuah studi tahun 2006 terhadap lebih dari 1000 ibu hamil menunjukkan bahwa mereka yang minum kafein 200 mg perhari (dari kopi, teh, soda, atau cokelat panas) beresiko tinggi mengalami keguguran. Tetapi, studi lain di tahun 2008 tidak menemukan kaitan antara kedua hal ini.
Karena hasil penelitian belum bisa disimpulkan, ikatan dokter ginekologi di AS menyarankan ibu hamil membatasi asupan kafein tidak lebih dari 200 mg/hari.

3. Ketergantungan alkohol
Mencampurkan minuman energi dan alkohol bisa berefek sangat berbahaya. Walau kafein adalah stimulan, tetapi zat ini tidak "menetralkan" efek menenangkan dari alkohol. Minum alkohol yang dicampur minuman energi ditakutkan akan membuat orang terjaga lebih lama sehingga mereka minum alkohol lebih banyak lagi.

4. Penggunaan obat-obatan
Studi terhadap 1.600 mahasiswa menemukan bahwa minuman energi akan meningkatkan risiko penggunaan obat-obatan yang diresepkan, seperti obat antinyeri atau stimulan.

5. Gangguan kognitif
Studi berskala kecil tahun 2010 menunjukkan bahwa minum kafein dalam skala moderat, sekitar 40 mg, bisa meningkatkan waktu reaksi dan performa ujian. Tapi minum dalam jumlah lebih tinggi lagi, sekitar 250 mg atau 80 mg, justru memperburuk performa dan waktu reaksi.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)